Kamis, 03 April 2014

Pujian Melambungkan Prestasi

Ada kisah nyata seorang penyanyi terkenal di Eropa, seorang wanita yang memiliki suara yang bagus sekali. Wanita ini bersuamikan seorang pemain musik, pemain keyboard dan seorang pengarang lagu. Begitu pandainya sang suami ini tentang lagu, nada, birama, tangga nada dan hal-hal dibidang musik semacam itu, sehingga dia selalu bisa menemukan apa yang harus dikoreksi ketika isterinya menyanyi.


Kalau isterinya menyanyi dia berkata; “Bagian depan kurang tinggi”, lain kali dia berkata; “Bagian ini kurang pelan”, “Bagian akhir naik sedikit” Selalu saja ada komentar yang dia lontarkan kalau isterinya menyanyi atau bersenandung. 

Hal ini membuat sang wanita ini akhirnya malas menyanyi. Dia berkeputusan; “Wah nggak usah nyanyi saja deh. Nyanyi apa saja salah terus, nyanyi apa saja ada yang kurang. Nggak usah nyanyi, kalau nyanyi malah bertengkar”

Singkat cerita, suaminya meninggal dunia dan lama setelah itu dia menikah lagi dengan seorang tukang ledeng. Tukang ledeng yang tentunya tidak tahu menahu soal musik. Yang dia tahu isterinya suaranya bagus dan dia selalu memujinya kalau isterinya menyanyi.

Suatu ketika Isterinya bertanya : “Pa bagaimana laguku?” 

Suaminya : “Ma … saya ini selalu ingin cepat pulang karena mau dengar engkau menyanyi ma!”, lain kali dia katakan ”Ma … kalau saya tidak menikah dengan engkau saya sudah tuli kali ma.., karena bunyi dentuman, bunyi gergaji, bunyi cericit drat pipa ledeng, gesekan besi dan bunyi keras lainnya yang saya dengar sepanjang hari kalau saya bekerja.. Sebelum saya menikah denganmu Ma… saya sering mimpi atau terngiang-ngiang suara-suara itu ketika tidur. Sekarang setelah menikah dan sering mendengar engkau menyanyi …  lagumulah yang terngiang-ngiang

Isterinya sangat bersuka cita, tersanjung merasa diterima dengan pujian yang diterimanya dan membuat dia gemar bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi. Mandi dia bernyanyi, masak dia bernyanyi dan tanpa disadarinya dia berlatih, berlatih ‎dan berlatih. Suaminya memuji dan mendorong hingga mulai merekam dan mengeluarkan kaset volume pertama dan ternyata disambut baik oleh masyarakat.

Akhirnya dia menjadi penyanyi yang terkenal bukan saat suaminya ahli musik, tetapi saat suaminya tukang ledeng, yang memujinya ketika dia menyanyi.

Pujian memberikan penerimaan, pujian memberikan rasa diterima, pujian memberikan dorongan, pujian memberikan semangat dan dorongan untuk melakukan hal yang baik. Pujian membuat seseorang bisa meraih prestasi tertinggi yang bisa diraihnya. 

Omelan, bentakan, kecaman, amarah tidak banyak merubah, tetapi pujian besar kuasanya. Karena itu marilah kita saling memuji satu dengan yang lain dan bukan memuji diri sendiri. Berikan pujian kepada orang lain dan bukan meminta dipuji. 

Pujilah pasangan anda, dan jangan sampai tukang ledeng, tukang sayur, tukang pos, sopir anda, tetangga atau bossnya di kantor yang memujinya. Jangan terkejut dan jangan salahkan dia, jika dikemudian hari, ia selingkuh dengan mereka. Bukan hanya selingkuh, setelah ketahuan, suami menyuruhnya memilih; “Kamu pilih saya atau dia” 

Dalam banyak kasus yang saya jumpai, banyak wanita memilih sopir, tukang sayur, tetangga yang secara fisik dan finansial lebih jelek dari suaminya, namun ia mendapatkan perhatian dan kasih sayang.

Manusia bukan mesin yang cukup diisi solar dan diganti olie. Manusia memang butuh uang dan makanan, serta tempat tinggal, namun manusia adalah makhluk yang memerlukan kasih sayang. Ketika kebutuhan primer seperti makan minum dan rumah sudah terpenuhi, maka ia membutuhkan makanan bagi jiwanya. Jadi pujilah isteri Anda ... daripada nanti ia dipuji tukang ledeng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar